Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thứ Hai, ngày 04 tháng 4 năm 2016

Rating Pemain Manchester United Saat Mengalahkan Everton 1-0


Manchester United sukses menaklukkan tim tamu Everton dengan skor tipis 1-0 dalam lanjutan Premier League pekan ke-32, Minggu (3/4) di Old Trafford. Anthony Martial menjadi penentu kemenangan sekaligus membawa timnya naik satu peringkat ke posisi lima dengan 53 poin.

Berikut rating para pemain United. 
Penjaga Gawang
​David de Gea (7/10): Melakukan dua penyelamatan penting, terutama peluang emas dari Phil Jagielka di menit-menit terakhir.
Pertahanan

​Matteo Darmian (6/10): Bermain solid di sisi kanan United, lebih memilih untuk bertahan daripada terlalu sering membantu serangan.

Chris Smalling (7/10): Membentuk kerja sama yang baik dengan Daley Blind untuk menutup ruang di lini belakang.

Daley Blind (8/10): Mengawal Romelu Lukaku dengan luar biasa, mematikan pergerakan pemain Belgia itu di kotak penalti, meminimalisir ancaman untuk gawang timnya.

Marcos Rojo (5/10): Sempat kewalahan menangani Gerard Deulofeu dan akhirnya digantikan di babak kedua.
Pemain Tengah

​Morgan Schneiderlin (6/10): Menjaga kendali permainan United di lini tengah pada babak kedua, tapi agak kewalahan menangani lini serang Everton.

Michael Carrick (6/10): Berkontribusi baik saat ikut mengendalikan permainan dengan umpan-umpannya, namun kehabisan tenaga di babak kedua dan digantikan Ander Herrera.

Jesse Lingard (6/10): Bermain dengan determinasi tinggi meski kurang efektif di sepertiga akhir lapangan.

Juan Mata (6/10): Satu-satunya momen berkesan dari pemain spanyol ini adalah ia ikut terlibat dalam membangun serangan yang berbuah gol Anthony Martial.

Anthony Martial (7/10): Seperti biasa kecepatan dan teknik bola yang dimilikinya merepotkan barisan pertahanan lawan, disempurnakan dengan gol dari sebuah pergerakan tanpa bola yang tepat waktu.
Pemain Depan

Marcus Rahsford (8/10): Meski tak mencetak gol, Marcus Rashford menunjukkan permainan yang bersemangat dan terlibat banyak dalam membangun serangan.
Pemain Pengganti

Timothy Fosu-Mensah (7/10): Menggantikan Marcu Rojo di babak kedua. Menunjukkan agresivitas yang membuatnya berhasil mencetak assist untuk gol Martial.

Ander Herrera (6/10): Memberikan suntikan energi dan kreativitas di lini tengah United dengan menggantikan Carrick.

Antonio Valencia (-): Hanya bermain empat menit.

Thứ Năm, ngày 10 tháng 3 năm 2016

7 Pemain Legendaris Lawan yang Mendapat Aplaus di Santiago Bernabeu

​Suporter Real Madrid selalu menghargai para pemain legendaris klubnya, Itu sudah menjadi tradisi. Namun, mereka juga dikenal mampu menghargai pemain lawan, terutama pemain legendaris dari tim lawan.

Di babak kedua pertandingan Champions League belum lama ini, Francesco Totti masuk lapangan di tengah pertandingan menggantikan Stephan El Shaarawy. Sang Pangeran Roma rupanya menarik simpati para pendukung Los Blancos.

Ia diberi aplaus sambil berdiri atau standing ovation sebagai pengakuan dari pendukung tim lawannya. Totti ternyata bukan satu-satunya rival yang mendapat sambutan hangat Madridistas. Sedikitnya ada tujuh pemain legendaris yang pernah mengalaminya termasuk Totti.

7. Diego Armando Maradona

​Diego Maradona datang ke Camp Nou tahun 1982 setelah menggemparkan dunia bersama TImnas Argentina dan Boca Juniors. Dalam sebuah pertandingan El Clasico, El Pelusa mencetak salah satu gol. Pertandingan berakhir seri.

Pendukung Real Madrid ternyata terkesan dengan penampilan si pendatang baru dari Argentina itu. Mereka memberi sambutan dengan berdiri dan bertepuk tangan.

6. Ronaldinho Gaucho

Diego Maradona bukan satu-satunya pemain Barcelona yang menerima penghargaan para Madridistas. Partai El Clasico 2005/06 menghadirkan Ronaldinho dan Barca menang 2-0.

Pemain Brasil itu mengelabui Sergio Ramos dan Iker Casillas dan mencetak gol Dinho kemudian keluar lapangan dan secara serentak, pendukung Madrid berdiri lalu bertepuk tangan tanda penghargaan atas penampilannya kali itu. Luar biasa.

5. Alessandro Del Piero

​Del Piero adalah salah satu pemain terbesar dalam satu dekade terakhir. Juventus datang ke Santiago Bernabeu dalam pertandingan Champions League fase grup tahun 2008.

Claudio Ranieri lalu mengganti Del Piero di babak kedua dan publik Bernabeu memberi sambutan dengan standing ovation.

4. Ryan Giggs

​Real Madrid bertemu dengan Manchester United di babak 16 besar Champions League 2012/13, musim terakhir Sir Alex Ferguson. 

Ryan Giggs baru masuk di babak kedua dan ketika itulah sambutan luar biasa menantinya, sebuah penghargaan untuk pencapaian Giggs lewat kiprahnya di sepak bola Inggris.

3. Andrea Pirlo

​Real Madrid harus berhadapan dengan Juventus di semifinal Champions League musim lalu. Rekor pertemuan tuan rumah dengan 10 kemenangan.

Namun, hal tak terduga terjadi. Juventus menang ketika masih diperkuat Andrea Pirlo. Itu adalah laga terakhirnya di Champions League. Suporter Madrid lalu memberikan aplaus kepada mantan bintang AC Milan yang pernah hampir membela Madrid itu.

2. Andres Iniesta

​Walau secara tradisi Madrid adalah rival sengit Barcelona, hal itu tak menghalangi suporter Madrid dalam memberi penghargaan. Dalam partai El Clasico pertama musim ini, Luis Enrique memberi pelajaran kepada Rafael Benitez dengan menggilas Madrid 4-0.

Dalam sebuah momen, Andres Iniesta meninggalkan lapangan di babak kedua digantikan oleh Munir Haddadi. Penghargaan spontan diberikan kepada Iniesta.

1. Francesco Totti

​Pemain legendaris dan masih aktif bermain yang terakhir mendapat sambutan adalah Francesco Totti. Kariernya sebagai pemain mungkin akan berakhir di pengujung musim ini.

Madridistas menghargai keberadaan kapten Roma yang mungkin telah menjalani partai terakhir Champions League dalam kariernya itu. Mereka lantas memberi tepuk tangan meriah tanda penghormatan.

Thứ Tư, ngày 09 tháng 3 năm 2016

8 Kelanjutan Karier Pemain Sepakbola yang Terkena Kasus Doping dan Narkoba

​Maria Sharapova secara mengejutkan membuat pengumuman bahwa dirinya gagal tes doping. Petenis cantik asal Rusia itu mengaku tak tahu bahwa obat untuk jantung yang telah diresepkan selama 10 tahun oleh dokter keluarganya ternyata mengandung salah satu zat doping.

Di dunia sepak bola, tes doping secara rutin telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun terakhir. Namun, ada saja pemain-pemain yang masih berusaha mencari celah untuk mendongkrak performa mereka lewat zat-zat tambahan dan ilegal.

8. Jack Livermore

Hull City v Sunderland - Premier League

​Mantan pemain Tottenham Hotspur ini sukses memberi citra positif ketika dipinjamkan ke Hull City. Mereka lalu membelinya secara permanen. Ternyata, performa di musim kedua menukik.

Lalu, usai partai melawan Crystal Palace musim ini, Livermore kedapatan menggunakan kokain. Kehilangan anak menjadi penyebab rasa frustrasi pemain asal Inggris ini.

Walau sempat diancam hukuman oleh klub dan FA, sanksi terhadap Jack Livermore pada akhirnya dibatalkan. Mungkin rasa simpati menjadi faktor penentu keputusan tersebut.

7. Mohamed Kallon

Monaco's forward Mohamed Kallon jubilate

​Penyerang asal Sierra Leone ini mengalami kesulitan menembus barisan tim inti Inter Milan. Ada Obafemi Martins dan Adriano sebagai pilihan utama. Mungkin karena itulah Kallon menempuh jalur instan yang di kemudian hari membahayakan kariernya.

Di partai melawan Udinese, Kallon ketanggor menenggak nandrolone lalu dihukum selama delapan bulan. Setelh itu Kallon pindah ke AS Monaco. Di sana ia sempat tampil 48 kali kemudian menghilang dari kancah sepak bola Eropa.

Ia kini menjadi pemilik Kallon FC di negaranya. Timnya cukup sukses dengan menjadi juara FA Cup, juara liga, dan masuk kualifikasi African Champions League.

6. Mark Bosnich

Mark Bosnich

​Karier di Old Trafford tak menjanjikan sejak kedatangan Fabien Barthez. Kelakuannya di luar lapangan juga tak membantu. Mengemudi ugal-ugalan atau hormat Nazi adalah beberapa tingkah buruk Mark Bosnich.

Kariernya hampir terselamatkan di Chelsea. Sayangnya kebugaran menjadi kendala. Ditambah lagi, Bosnich kedapatan mengonsumsi kokain. Ia lalu dipecat dan pulang kampung ke Australia. Kariernya sebagai kiper tak lagi bisa terselamatkan kali itu.

5. Kolo Toure

FBL-ENG-PR-NEWCASTLE-LIVERPOOL

​Mantan bek Arsenal dan Manchester City ini sempat membuat heboh persepakbolaan Inggris. Pada 2011, Kolo Toure tercatat sebagai pemain Premier League pertama yang kena kasus doping dalam tujuh tahun terakhir.

WADA (World Anti-Doping Agency) menemukan zat spesifik yang diaku berasal dari pil diet istri Kolo. Panel FA lalu menyatakan bahwa pemain Pantai Gading ini berkata jujur, walau tetap mengganjar larangan enam bulan.

Kariernya tampak masih bisa diselamatkan di tangan Jurgen Klopp.

4. Garry O’Connor

MK Dons v Birmingham City - Pre-Season Friendly

​Suatu ketika, tersebutlah pemain muda berbakat dari Skotlandia yang mampu menembus timnas dalam usia 18 tahun. Lokomotiv Moscow kemudian tertarik dan merekrutnya.

Setelah itu O'Connor diminati Birmingham City dan bermain di Premier League sebentar, sebelum kasus doping dengan kokain terangkat. Karier Garry kemudian terhempas ke jurang. Ia kini bermain untuk Selkirk FC, klub di divisi level kelima Skotlandia.

3. Adrian Mutu

(FILES) This file photo shows Chelsea's

​Ia pernah dianggap sebagai salah satu penyerang terbaik Eropa. Chelsea lalu memboyong pemain asal Rumania ini. Sayangnya, kasus pelik akibat kecanduan kokain membuat Mutu dipecat plus hukuman larangan bermain tujuh bulan.

Juventus berusaha membangkitkan kembali kariernya. Setelah itu Mutu terlihat mencuat bersama Fiorentina. Namun, lagi-lagi ia kena kasus doping. Setelah menjalani hukuman absen sembilan bulan, Cesena, Ajaccio, dan Petrolul tak lagi bisa menikmati ketajamannya.

2. Diego Maradona

Diego Maradona of Argentina

​Legenda terbesar Argentina ini memang dikenal sebagai pemakai kokain yang setia hingga masa tuanya. Maradona pernah terkena kasus memalukan hingga didepak dari Napoli tahun 1991 akibat terbukti memakai kokain.

Tak hanya sampai di situ, di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, El Diego tampil memukau dan Argentina mungkin bisa jadi juara lagi jika tidak ada kasus ini.

Maradona dicurigai doping lalu dites. Hasilnya positif. El Diego kali itu memakai ephedrine. Maradona lalu hanya bisa bermain di kampung halamannya saja, lalu mengakhiri karier di Boca Juniors.

1. Gerard Kinsella

Fulham v Everton - Premier Academy League Final

​Kisah pemain satu ini mungkin paling memilukan. Gerrard Kinsella adalah mantan lulusan akademi Everton seangkatan dengan Ross Barkley. Ia pernah digadang menjadi gelandang tengah hebat.

Rentetan beberap cedera parah membawanya masuk meja operasi untuk cedera bahu, retak metatarsal, patah tulang leher, robek tulang rawan, meningitis, sampai pergelangan kaki.

Kinsella kemudian terpaksa turun kasta dan bermain di Fleetwood Town. Namun, rasa sakit sisa-sisa cedera sebelumnya tak kunjung usai. Kinsella lalu frustrasi dan tergoda memakai steroid anabolik.

Akibatnya, FA menjatuhkan sanksi larangan dua tahun! Karier Kinsella terancam tamat. Untungnya, AFC Liverpool memberi kesempatan dan sekarang Kinsella sedang membangun kembali kariernya sebagai pemain profesional.

11 Pemain Terbaik Usia 34 Tahun ke Atas yang Masih Aktif Memperkuat Klub

​Sepakbola adalah permainan keras dan butuh fisik prima, selain kemampuan lain termasuk kecerdasan para pemain. Namun, sebuah tim juga butuh tipe pemain yang punya kematangan mental dan biasanya mereka justru sudah melewati usia emas, di atas 30 tahun.

Ada cukup banyak pemain gaek macam ini. Beberapa di antaranya bisa dipilih sebagai yang terbaik. 

11. Francesco Totti

FBL-ITA-SERIEA-ROMA-PALERMO

​Usianya menjelang 40 tahun, namun masih saja malang-melintang di lapangan Stadio Olimpico musim ini. Pendukung Roma sudah mengenalnya sejak 1992, 24 tahun yang lalu!

Jika Anda baru berumur 23 tahun, itu artinya Totti telah menjadi pemain sebelum Anda lahir. Dan, sampai sekarang pun masih bermain. Gila!

10. Xabi Alonso

FBL-GER-CUP-BAYERN-DARMSTADT

​Carlo Ancelotti sebenarnya masih menginginkan Xabi bertahan di Real Madrid ketika itu. Namun, petinggi klub punya rencana berbeda dan ia kemudian ditampung Bayern Munchen.

Setelah Pep Guardiola dipastikan hengkang akhir musim ini, Ancelotti bisa melakukan reuni dengan salah satu pemain gaek andalannya itu.

9. Michael Carrick

Manchester United v Fulham - Premier League

​Ketika Carrick tidak cedera, ia akan menjadi pilihan utama untuk posisi gelandang bertahan di Manchester United hingga musim ini. Bahkan di usia 34 tahun, para fans dan pengamat menilai bahwa mantan pemain West Ham dan Tottenham Hotspur ini sebaiknya tetap bertahan setidaknya semusim lagi.

8. Andrea Barzagli

Frosinone Calcio v Juventus FC - Serie A

​Setahun yang lalu, karier Barzagli sebagai pemain tampak sudah hampir tamat. Operasi tumit harus ia jalani pasca Piala Dunia 2014.

Namun, keberadaannya di Juventus tetap memberi dampak besar. Kematangan dan teknik berkelas telah memberinya masa karier lebih panjang, selain secara fisik juga masih cukup prima.

7. Damien Delaney

Crystal Palace v Southampton - Premier League

​Apakah musim ini kariernya sebagai pemain makin meredup? Sepertinya belum.

Damien Delaney terlihat masih bisa bersaing dengan pemain-pemain yang lebih muda. Crystal Palace kemungkinan masih tetap bertahan di Premier League musim depan dan Delaney adalah salah satu bek andalan mereka selama ini.

6. Gareth Barry

Aston Villa v Everton - Premier League

Pemain yang sudah berusia 35 tahun biasanya sudah tidak mampu bersaing di level tinggi seperti Premier League. Gareth Barry membuktikan sebaliknya. 

Bersama Everton, Barry masih menjadi andalan dan keberadaannya bisa menentukan hasil pertandingan. Pemain ini sudah tampil 582 kali di Premier League, 365 di antaranya bersama Aston Villa.

5. Sisenando Maicon

FBL-ITA-SERIEA-JUVENTUS-ROMA

​Jarang ada pemain selain kiper yang masih bisa bertahan, terutama untuk posisi bek mengingat mereka biasanya harus adu otot dan kecepatan dengan pemain lawan.

Namun, bek asal Brasil ini menghancurkan mitos bahwa pemain berumur tak bisa lagi bertarung melawan pemain muda.

4. Patrice Evra

FBL-QAT-ITA-JUVENTUS

​Evra mungkin tak lagi dianggap cukup baik untuk bertahan di Premier League. Namun di Serie A, pemain asal Prancis ini membuktikan sesuatu yang di luar dugaan.

Di musim pertama, Evra tak tergantikan di Juventus. Ia juga masih bisa bersaing di turnamen level Eropa. Terbukti dengah kehadirannya di final Champions League musim lalu.

3. Luca Toni

Hellas Verona FC v Torino FC - Serie A

Apa? Luca Toni masih aktif bermain? Mungkin itulah reaksi suporter Fiorentina atau Bayern Munchen melihat aksi penyerang asal Italia berumur 38 tahun ini. 10 tahun lalu pendukung dua klub itu pasti ramai membicarakannya.

Sekarang, Verona masih mengandalkan kemampuannya di usia senja. 47 gol telah ia cetak sejak bergabung dengan Verona tahun 2013 lalu.

2. Zlatan Ibrahimovic

FBL-EUR-C1-PSG-CHELSEA

​Siapa yang berani memensiunkan Zlatan? Mungkin Zlatan yang akan memensiunkan orang itu.

Penyerang jangkung dari Swedia ini masih menjadi momok para pemain bertahan di Ligue 1 dan di Eropa. Mungkin kekuatan kakinya terbantu karena Zlatan menjaganya dengan latihan olahraga lain. Ia adalah pemegang sabuk hitam taekwondo, bela diri yang lebih banyak menggunakan tendangan.

1. Gianluigi Buffon

FBL-ITA-SERIEA-JUVENTUS-FIORENTINA

​Buffon semestinya sudah menjadi pensiun dan menjadi pemain besar Juverntus. Nyatanya, ia masih aktif bermain dan performanya masih terbilang termasuk di antara yang terbaik di Eropa bahkan dunia.

Super Gigi masih bisa membawa Juve ke final Champions League musim lalu dan musim ini tetap tak tergoyahkan sebagai kiper utama.

8 Kota di Dunia Dengan Stadion Lebih Besar dari Populasi

Sebuah kota atau wilayah sewajarnya​ memiliki stadion yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk tentunya olahraga khususnya sepak bola, dengan kapasitas yang memadai. Tidak ada persentase baku berapa kapasitas stadion yang disebut wajar terhadap populasi, karena jika dikaitkan dengan sepak bola, tingkat fanatisme setiap kota atau daerah terhadap klub yang bermarkas di kota tersebut akan berbeda. Namun, dengan kapasitas 10-20% dari populasi mestinya adalah angka yang wajar.

Keanehan terjadi saat kapasitas stadion di sebuah kota justru melebihi populasi di kota atau daerah tempat stadion tersebut berada. Tidak perlu hingga dua kali lipat, sedikit lebih banyak saja sudah cukup ajaib. Meski tidak banyak, tapi berikut delapan stadion yang memiliki kapasitas melebihi total populasi kota atau daerah tempatnya berdiri.

8. Stadio Teofilo Patini (112%)

Stadio

​Seperti hampir semua stadion di Italia, stadion ini dimiliki oleh pemerintah kota setempat yaitu Castel di Sangro. Dengan kapasitas 7.220 penonton, stadion ini menjadi markas klub di kasta keenam sepak bola Italia, Castel di Sangro.

Populasi kota Castel di Sangro menurut catatan 2013 adalah 6.461 jiwa yang membuat stadion ini memiliki persentase kapasitas 112% terhadap populasi.

7. Stade Bollaert-Delelis (117%)

FBL-EURO-2016-LENS-STADIUM

​Sebelumnya dikenal dengan Stade Félix Bollaert, yang juga markas klub peserta Ligue 2, Lens. Salah satu stadion yang akan menjadi tuan rumah Euro 2016 ini memiliki kapasitas 38.223 penonton. Sedangkan kota Lens hanya memiliki penduduk sebanyak 32.663 jiwa.

Persentase kapasitas terhadap populasi untuk stadion ini mencapai 117%.

6. Victoria Park (120%)

victoris

​Victoria Park di kota Dingwall adalah markas Ross County FC, klub peserta Scottish Premiership. Populasi Dingwall pada 2011 tercatat 5.491 jiwa sementara Victoria Park memiliki kapasitas 6.541 penonton.

5. Rheinpark Stadion (140%)

Rheinpark Stadion

​Terletak di kota Vaduz, Liechtenstein, stadion yang menjadi markas klub FC Vaduz ini memiliki kapasitas 7.584 penonton. Kota Vaduz sendiri berpenduduk sebanyak 5.429 jiwa. Artinya persentase kapasitas stadion terhadap populasi mencapai 140%.

4. Stadion FK Chmel Blsany (241%)

FK Chmel

​Stadion ini memang relatif kecil, hanya sanggup menampung 2.300 penonton. Stadion yang dimiliki oleh klub FK Chmel Blsany, berdiri di kota Blsany, Rep. Ceska yang berpenduduk, jangan kaget, hanya 954 jiwa.

FK Chmel Blšany sendiri sempat bermain di Liga Utama Ceska hingga 2006, namun kini bermain di kasta kelima Liga Ceska setelah mengalami degradasi terakhir pada 2012.

3. Stade de Roudourou (252%)

Stade de Roudourou

​Stadion yang terletak di kota Guingamp, Prancis ini bukan stadion sembarangan. Pada 10 Oktober 2009, stadion berkapasitas 18.250 penonton ini sempat dipakai Timnas Prancis untuk menjamu Timnas Kep. Faroe dalam kualifikasi Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

Kota Guingamp sendiri menurut catatan terakhir pada 2012 berpenduduk 7.235 jiwa. Artinya di stadion yang merupakan markas klub Ligue 1, En Avant Guingamp ini, setiap dua orang penduduk punya jatah lima tempat duduk.

2. Drnovice Stadium (290%)

Drnovice stadium

Terletak di kota kecil Drnovice, Rep. Ceska, stadion ini memiliki kapasitas 6.616. Penduduk kota Drnovice sendiri berdasarkan sensus terakhir pada 2008 adalah 2.278 jiwa. Artinya, jika walikota setempat ingin mengumpulkan seluruh penduduk, tidak perlu pusing mencari tempat. Cukup di stadion dan bahkan hampir semua penduduk mendapat jatah tiga kursi.

Stadion ini sebelumnya menjadi markas klub FK Drnovice, anggota Liga Utama Ceska, hingga 2006. Karena kesulitan keuangan, klub tersebut bangkrut dan ditutup, namun stadionnya tetap berdiri.

1. Estadio El Cobre (296%)

Estadio El Cobre

​Ini dia juaranya. Kota El Salvador, Chili berdasarkan data terakhir mencapai 7.000 jiwa. Kota pertambangan ini sebelumnya dihuni hingga 24.000 orang. Setelah tambang tembaga yang menghidupi kota ini ditutup, populasinya langsung merosot.

El Salvador memiliki Estadio El Cobre, sebuah stadion dengan kapasitas 20.752, yang membuatnya menempati peringkat pertama dengan persentase terhadap populasi mencapai 296%. Stadion ini adalah markas klub Cobresal yang bermain di Primera Division Liga Chili.

Thứ Ba, ngày 08 tháng 3 năm 2016

Real Madrid 2 - 0 AS Roma: Standing Ovation Totti “Rayakan” Kelolosan Madrid ke Perempat Final

Real Madrid sukses melaju ke delapan besar atau perempat final Champions League usai menyingkirkan AS Roma dengan agregat gol 4-0 di 16 besar. Setelah menang 2-0 di Olimpico, Los Blancos kembali menang dengan skor yang sama di leg kedua yang berlangsung di Santiago Bernabeu.

Aksi publik Santiago Bernabeu saat memberi standing ovation atau penghormatan kepada Francesco Totti pada menit 73, kala ia masuk menggantikan Stephan El Shaarawy, mewarnai kelolosan Madrid ke fase selanjutnya.

Totti diberi penghormatan karena ia legenda Roma, yang mungkin pensiun akhir musim ini dan menjalani laga terakhirnya di Champions League, mengingat usianya telah berumur 39 tahun.

Jalannya Pertandingan

Babak Pertama

Roma tahu butuh menang 3-0 jika ingin langsung melaju ke fase selanjutnya, setelah kalah 0-2 di leg pertama yang berlangsung di Stadio Olimpico. Pelatih Roma, Luciano Spalletti, langsung menurunkan skuat yang cukup ofensif dengan menempatkan Edin Dzeko, Stephan El Shaarawy, Diego Perotti, dan Mohamed Salah di lini depan.

Sementara Roma mengejar defisit dua gol Madrid, tim tuan rumah yang diarsiteki Zinedine Zidane mengubah komposisi pemainnya. Tanpa Karim Benzema yang masih cedera, Zidane menempatkan Cristiano Ronaldo di depan bersama Gareth Bale, dan James Rodriguez. Di lini tengah Zidane juga menjaga poros Luka Modric dan Toni Kroos, dengan menempatkan Casemiro sebagai “pengaman” lini tengah.

Tipikal Casemiro sebagai perebut bola, dapat memberi jaminan keamanan di lini tengah serta melapis pertahanan Madrid. Hingga Kroos dan Modric bisa bebas menyerang, membantu tridente lini depan Madrid.

FBL-EUR-C1-REALMADRID-ROMA

Di 10 menit pertama laga langsung berjalan sengit. Roma tancap gas menyerang untuk mengejar ketertinggalan agregat gol. Namun serangan mereka hanya terjadi sesaat, karena Madrid langsung mengambilalih penguasaan bola.

Madrid mendikte tempo permainan, sementara Roma bermain dengan serangan balik mengandalkan kecepatan Salah, Perotti, dan Shaarawy. Ketiganya langsung mengancam, kala merebut bola dari kaki pemain Madrid.

Pola permainan itu nyaris berbuah gol pada menit 14 untuk Roma. Salah menusuk dari sisi kiri pertahanan Madrid, memberikan bola yang dibiarkan Shaarawy lewat menuju Dzeko yang tak terkawal. Sayang bagi fans Roma, sepakan eks striker Manchester City hanya melebar di samping kanan gawang Keylor Navas.

Kiper Roma, Wojciech Szczesny, sudah dipaksa melakukan beberapa penyelamatan di 20 menit pertama dari peluang yang diciptakan Kroos, Ronaldo, dan Modric. Lini pertahanan Roma yang digalang Kostas Manolas dan Ervin Zukanovic belum berbuat banyak, dalam mencegah sepakan tepat sasaran para pemain Madrid.

Kedua tim menghasilkan banyak peluang hingga waktu berjalan 30 menit, namun uniknya tidak ada satupun peluang tersebut yang mampu dikonversi menjadi gol. Roma masih memiliki peluang mengejar agregat gol, sedangkan Madrid tak sabar mencetak gol untuk memupuskan harapan tim tamu.

Skor kacamata bertahan hingga babak pertama berakhir. Szczesny menjaga gawang Roma tetap clean sheet berkat beberapa penyelamatan krusialnya, Madrid masih unggul agregat dua gol.

Babak Kedua

Spalletti mengganti pemainnya di awal babak kedua. Miralem Pjanic ditarik keluar, dan diganti dengan William Vainqueur. Pria asal Prancis tersebut punya tipikal bermain lebih defensif ketimbang Pjanic, indikasi bahwa Spalletti ingin memenangi perebutan bola di lini tengah, dan dengan cepat memberikan bola ke lini depan.

Roma mencatatkan dua peluang emas di menit 55 dan 56. Namun dua peluang itu kandas oleh penyelamatan gemilang Navas, kala menepis sepakan keras Alessandro Florenzi dan Manolas dari situasi bola mati.

Zidane coba memberikan warna baru di permainan Madrid, mengganti Bale dengan Lucas Vazquez di menit 61. Vazquez bermain lebih direct atau langsung, dalam memberikan umpan silang ke dalam kotak penalti lawan.

Pergantian itu pun terbukti jitu. Tak lama setelah Vazquez masuk, eks pemain Espanyol melakukan step over untuk melewati Lucas Digne dan mengirim umpan silang, yang langsung disambar Ronaldo. Kapten Timnas Portugal mencetak gol ke-13 di Champions League musim ini dari delapan laga yang dilakoninya, 1-0 untuk Madrid.

Madrid bermain lebih nyaman dengan keunggulan itu dan kembali mencetak gol di menit 67. Kali ini dari skema serangan balik kilat, Ronaldo memberikan bola kepada James yang langsung menendangnya melewati sela kaki Szczesny.

2-0 Madrid menjauh, agregat gol menjadi 4-0, dan Roma butuh empat gol jika masih ingin bertahan di Champions League.

Publik Santiago Bernabeu ikut memberi standing ovation kepada legenda Roma, Francesco Totti yang turun bermain di menit 73 menggantikan Shaarawy. Bisa jadi Champions League musim ini jadi laga terakhir sang pangeran Roma, mengingat usianya telah berumur 39 tahun.

Zidane sepertinya masih belum puas dengan keunggulan 2-0 dan agregat gol 4-0. Ia mengganti Modric yang notabene gelandang tengah, dengan Jese Rodriguez yang merupakan penyerang sayap di menit 75.

Tak sampai di situ, Zidane membuktikan ucapan yang ingin timnya bermain ofensif. Pada menit 83 ia mengganti Casemiro dengan Mateo Kovacic yang lebih ofensif, dan mengenal kultur sepak bola Italia karena pernah bermain untuk Inter Milan.

Namun Madrid tak lagi menambah pundi-pundi gol mereka, dan Roma tak juga mampu membobol gawang Navas hingga laga berakhir. Skor 2-0 menutup laga untuk kemenangan Madrid, yang lolos ke fase selanjutnya dengan total agregat gol 4-0.

Susunan Pemain:

Real Madrid: Keylor Navas: Marcelo, Sergio Ramos, Pepe, Danilo; Toni Kroos, Casemiro (Mateo Kovacic 83’), Luka Modric (Jese Rodriguez 75’); Gareth Bale (Lucas Vazquez 61’), Cristiano Ronaldo, James Rodriguez

Pelatih: ZInedine Zidane

AS Roma: Wojciech Szczesny; Alessandro Florenzi, Kostas Manolas, Ervin Zukanovic, Lucas Digne; Seydou Keita (Maicon 86’), Miralem Pjanic (Wiliam Vainqueur 46’), Mohamed Salah, Diego Perotti, Stephan El Shaarawy (Francesco Totti 73’); Edin Dzeko

Pelatih: Luciano Spalletti

Susunan Pemain Champions League: Real Madrid vs AS Roma

​​

​​